Menulis ini dini hari setelah baru aja mendarat di Bandara Istanbul. Setelah proses baggage claim selesai sekitar jam 2 pagi waktu Istanbul, sekarang kami lagi duduk-duduk menunggu waktu sholat Subuh yang ternyata masih sekitar jam 5 pagi. Setelah itu baru akan caw cari uang tunai, beli Istanbulkart, lalu janjian sama jasa penjemputan yang sudah di-book dari jauh-jauh hari untuk mengantar kami ke daerah Cihangir.
Jadi sebenarnya dari kemarin udah pengen bikin cerita tentang seharian explore Dubai, tapi ternyata TIDAK SANGGUP karena lelah sekali wakakak. Masih nyambi kerja, sambil mengurus anak-anak yang tentu juga sudah lelah~ Jadi harus tetap punya tenaga untuk menjadi provider anak-anak ngantuk yang masih harus boarding jam 9 malam setelah seharian mengelilingi Dubai, berjalan hampir 16 ribu langkah di suhu udara sekitar 43 derajat yang memanggang kami dengan sangat sempurna itu. 😭
Dan sekarang setelah semuanya terlewati, anak-anak sudah bisa selonjoran lagi, koper lengkap, dan kami sudah benar-benar menginjakkan kaki di Istanbul... rasanya baru punya sedikit tenaga untuk membuka blog ini lagi.
Oke, mari kita mundur ke kemarin pagi.
Karena cerita hari ini sebenarnya dimulai bukan di Istanbul, tapi dari sebuah kursi di Bandara Dubai tempat kami tidur malam sebelumnya...
Setelah semalaman bermalam di Bandara Dubai yang sibuk tapi ternyata tetap terasa tenang, Alhamdulillah anak-anak bisa tidur sampai Subuh. Hampir nggak ada suara announcement yang bersahut-sahutan, jadi meskipun banyak sekali orang lalu lalang dengan kepentingannya masing-masing, suasananya tetap cukup kondusif untuk istirahat.
Konsekuensinya tentu setiap orang harus benar-benar tahu informasi penerbangannya sendiri: kapan boarding, gate-nya di mana, dan lain-lain. Saya dan Baba gantian tidur supaya lebih tenang sambil saling mengawasi anak-anak dan barang bawaan.
Salah satu best things-nya di Terminal 3 Dubai ini adalah ada FREE WiFi yang proses loginnya gampang banget. Jadi meskipun lagi nunggu, tetap bisa sambil ngerjain beragam hal. Bisa kerja, nulis blog seperti saya kemarin, ngedit, atauuuu... berdoa di sepertiga malam.
Kata Baba, kita lagi dapat double combo: sedang safar sekaligus berada di waktu sepertiga malam. Jadi mari dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk merapal banyak doa.
Untungnya sekitar 30 menit sebelum waktu Subuh kami sudah mulai gosok gigi, bersih-bersih, dan siap-siap. Karena begitu masuk waktu sholat, area toilet dan tempat wudhu langsung RAMEEEE banget. Antreannya bahkan sampai mengular ke depan kamar mandi.
Setelah sholat Subuh, kami sempat menyuapi anak-anak sisa HokBen yang kemarin belum dibuka dan ternyata masih enak-enak aja. Lalu kami sarapan apa pun yang bisa dimakan dari perbekalan yang masih tersisa.
Sekitar hampir jam 6 pagi kami mulai mencari tahu gimana sebenarnya cara keluar dari bandara.
Jujur agak bingung. Dari beberapa konten yang saya lihat sebelumnya, kebanyakan orang begitu datang langsung mengikuti arah arrival dan keluar, baru kemudian istirahat di area sekitar sana. Tapi karena malam sebelumnya kami khawatir nggak dapat tempat istirahat yang proper, terutama yang dekat dengan musholla dan toilet, kami memilih menuju area connection dulu.
Nah... pagi harinya baru bingung sendiri.
“Terus keluarnya lewat mana ini?” Wkwkwk.
Akhirnya kami hampir muterin Terminal 3 dari ujung ke ujung sampai kemudian ada petugas yang menyarankan kami turun ke bagian imigrasi dan bertanya di sana. Untung petugasnya baik banget. Kami bahkan diarahkan mengikuti beliau melewati jalur masuk tertentu supaya bisa menuju area arrival.
Untuk bisa keluar bandara, tentu kami harus melewati imigrasi. Sebelumnya kami memang sudah mengurus visa Dubai sekitar tiga minggu sebelum keberangkatan.
Kami mengurusnya mandiri. Karena naik Emirates, proses pengajuannya waktu itu bisa kami lakukan melalui layanan mereka, tapi tetap ada biaya sekitar USD 24 per orang. Data yang harus dimasukkan lumayan banyak. Untuk keluarga dengan anak, pengajuannya bisa dikelompokkan bersama; waktu itu saya mengurus punya saya, Baba, Kafa, dan Nada dalam satu rangkaian. Dokumen anak juga dilengkapi dengan KK dan akta kelahiran.
Setelah proses input, kalau ada data yang kurang mereka cukup gercep mengabarkannya lewat email. Jadi terasa dibimbing, bukan yang salah atau kurang input lalu yaudah dibiarin aja. Setelah itu tinggal menunggu beberapa hari kerja sampai akhirnya visa dikirim dalam bentuk PDF.
Alhamdulillah di bagian imigrasi prosesnya juga cepat sekali. Mungkin karena kami sekeluarga, kami dipersilakan melewati gate bersama. Ditanya sedikit mau ke mana, apakah ini liburan, lalu petugas mengambil foto dan memberi stempel di paspor kami.
Dan yang paling bikin lega adalah...
NGGAK ADA SCAN SIDIK JARI! HUHUHU ALHAMDULILLAH CAPS LOCK.
Setelah masuk area arrival, semuanya jadi lebih mudah. Kami tinggal mengikuti alurnya sampai akhirnya, sesuai rencana, menuju area metro untuk membeli NOL Card daily pass yang bisa digunakan untuk keliling Dubai dengan beberapa moda transportasi selama sehari, SEPUASNYA.
Alhamdulillah prosesnya lancar. Kami membeli enam kartu karena Nada yang masih di bawah enam tahun waktu itu masih bisa ikut tanpa kartu. Tim yang membantu di loket juga ramah sekali. Harga perorangnya sekitar 98rb, tergolong terjangkau untuk kita bisa explore seharian, karena taxi disini harganya cukup tinggi.
Tujuan pertama kami adalah daerah kota tua Dubai: Gold Souq, Spice Souq, naik abra, Al Fahidi, dan area sekitarnya.
Sebenarnya dari awal sudah tahu kalau datang pagi kemungkinan banyak toko masih tutup. Tapi kami mikir, kalau nggak pagi nanti pasti PANAS BANGET.
Ternyata pagipun...
PANAS JUGA. HAHAHAHA.
Kami naik metro lalu turun di area yang sudah direncanakan untuk menuju Gold Souq. Di sini kami sempat mengubah sedikit urutan perjalanan dari itinerary awal, jadi visual lokasi yang sebelumnya sudah tersusun di kepala mendadak agak buyar.
Hasilnya?
Beberapa kali salah jalan di tengah udara panas yang sama sekali nggak membantu wkwkwk.
Kami sempat mampir ke toko kelontong untuk membeli dua minuman buat Kafa dan Nada sekaligus menukar pecahan uang 100 dirham menjadi uang yang lebih kecil untuk nanti naik abra.
Kami nggak terlalu lama di area Gold Souq karena meskipun suasananya terasa sangat khas Dubai, panasnya waktu itu memang lumayan bikin kewalahan. Kepala mulai pusing dan Kafa-Nada juga jadi kurang enjoy.
Akhirnya kami segera menuju Deira untuk naik perahu menyeberang ke arah Al Fahidi. Anak-anak yang tadi mulai letoy mendadak excited lagi begitu tahu akan naik perahu.
Untuk naik abra sepertinya ada beberapa jenis perahu. Ada yang bentuknya sangat tradisional—mode akamsi, anak kampung sini alias warlok wkwkwk—dan ada juga versi yang kendaraannya terlihat lebih modern.
Jujur kami juga nggak tahu cara memilihnya gimana. Begitu datang kami langsung beli tiket di lokasi, waktu itu sekitar 2 dirham per orang. Waktu menyeberangnya super duper sebentar karena ya memang cuma pindah ke seberang, tapi tetap seru!
Sebenarnya setelah sampai, sesuai itinerary kami mau explore area sekitar yang punya nuansa kota tua Middle East banget. Tapi ternyata kami kurang berhasil beradaptasi dengan panas terik yang benar-benar menyengat. Rasanya sampai kayak oksigen aja terbatas.
Akhirnya kami duduk dulu di pinggir dermaga sambil menyemprot wajah pakai air dan dikipas-kipas. Lumayan banget buat mengembalikan nyawa. Wkwk.
Sambil istirahat, kami mulai cari alternatif menuju destinasi berikutnya. Rencana awal sebenarnya harus jalan lumayan jauh sambil sekalian explore area sekitar.
Tapi karena sudah nggak sanggup, kami cek apakah ada halte bus terdekat.
Dan Alhamdulillah... ADA!
Pengalaman naik bus Dubai ini ternyata cukup berkesan karena busnya KENCEEEENG banget nyetirnya. 😭 Kami bahkan sempat mengalami rem mendadak karena ada motor pengantar makanan di depan. Saking kagetnya kami sampai kelewat pemberhentian yang seharusnya jadi tempat turun dan beberapa dari kami sempat terdorong ke depan. Nada kejedot dan menangis karena kaget, tapi Alhamdulillah nggak apa-apa.
Sungguh sebuah pengalaman.
Tapi poin plus BESAR dari naik bus saat itu: dingin dan nyaman banget. Jadi setelah berjalan di udara Dubai yang sedang sangat panas, masuk bus ber-AC rasanya seperti diselamatkan. 😭
Karena tadi kelewat halte, akhirnya kami turun agak jauh dari titik awal dan harus berjalan balik menuju halte Metro BurJuman.
Tapi ternyata stasiunnya buagus banget! Ada dekorasi yang vibes-nya kayak underwater. Senang aja melihat stasiun metro bisa seniat ini dekorasinya.
Dari BurJuman kami lanjut menuju Museum of the Future. Ternyata jaraknya nggak terlalu jauh. Begitu sampai, ada lorong connecting yang bisa langsung menuju area museum dan lorongnya sendiri sudah bagus banget.
Lalu...
MUSEUMNYA TUTUP.
He he he he.
Baru banget tutup untuk beberapa bulan dalam rangka improvement. Kok ya pas banget. Wkwk.
Tapi gapapa. Kami tetap keluar sebentar untuk foto kilat dengan ikon Museum of the Future karena kalau berlama-lama di luar rasanya TYDA SANGGUP. Lalu jalan balik lagi ke metro yang ternyata terasa jauuuuh banget ketika kaki sudah mulai protes.
Setelah dari sana kami lanjut ke Dubai Mall karena pengen melihat Burj Khalifa dan aquariumnya.
Dan jeng jeng jeng...
JALAN DARI METRO KE MALL-NYA JAUH BANGET.
Literally JAUHHHH wkwkwkwk.
Ada banyak sekali travelator untuk membantu orang yang sudah lelah jalan, tapi tetep aja terasa jauh hahaha. Untungnya karena kami pendatang baru, perjalanan panjang itu masih cukup menghibur. Dari lorong kaca kami bisa melihat panorama kota dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi, rapi, dan super modern.
Tujuan utama begitu sampai Dubai Mall cuma satu: CARI MAKAN.
Karena semuanya sudah laper bangeeet.
Di sini ada food court dengan banyak sekali pilihan tenant. Kami memilih makan ayam goreng yang relatif aman buat semuanya, lalu sekalian takeaway Albaik untuk bekal menunggu penerbangan malam.
Setelah kenyang, kami melihat aquarium raksasa yang bagus sekali!
Senang banget ya warga Dubai. Lagi jalan-jalan di mall aja bisa lihat hiu dan berbagai hewan laut dari aquarium sebesar ini secara gratis. Memang ada area premium yang berbayar, tapi melihat bagian yang bisa diakses publik aja menurut saya sudah menyenangkan banget.
Setelah dari aquarium, kami mencari area outdoor supaya bisa melihat Burj Khalifa lebih jelas. Ternyata lokasinya nggak jauh dari aquarium, tinggal jalan lurus saja.
Tapi begitu pintu mall terbuka...
HAAAAH PANAS LAGIIII. 😭
Jadi seperti destinasi sebelumnya: keluar, foto kilat, lalu melipir masuk mall lagi. Matahari teriknya sungguh perih dan menyengat.
Padahal area di sekitar sana sebenarnya bagus banget. Ada area air dan banyak sudut yang mungkin menarik kalau dieksplor lebih lama. Bahkan kalau mengikuti itinerary awal, sebenarnya masih ada beberapa tempat lain yang ingin kami datangi.
Tapi akhirnya banyak yang kami drop karena menyerah duluan sama cuaca.
Dan gapapa.
Itinerary memang dibuat untuk membantu perjalanan, bukan supaya perjalanan harus tunduk mati-matian pada itinerary.
Kami tinggal adjust sesuai kondisi badan, anak-anak, waktu, dan cuaca saat itu.
Setelah itu kami memilih pesan Uber karena rasanya sudah nggak sanggup kalau harus berjalan jauh kembali ke metro. Selain kaki sudah dar der dor seharian, kami juga ingin menghemat tenaga sebelum penerbangan malam.
Ternyata sistem penjemputan kendaraan online di Dubai Mall enak banget. Mereka punya area pickup tersendiri, jadi penumpang bisa menunggu sambil duduk di tempat ber-AC.
Ada layar besar yang menampilkan nomor plat kendaraan yang sudah masuk ke area penjemputan. Jadi nggak perlu berdiri di luar sambil cemas mantengin satu-satu mobil yang datang. Tinggal duduk, lihat layar, dan ada security juga yang membantu memanggil kendaraan yang sudah tiba.
Nyaman banget.
Dari sana kami langsung caw ke Bandara Dubai untuk melanjutkan penerbangan menuju Istanbul.
Karena penerbangan kami memang merupakan connecting flight, proses berikutnya cukup sederhana. Kami tinggal mengikuti alur pemeriksaan dan imigrasi.
Awalnya semua terasa cepat, nyaman, dan aman.
Sampai tas Baba lewat X-ray.
Disuruh ulang.
Petugas bertanya apakah ada laptop. Kami keluarkan laptopnya.
Lewat X-ray lagi.
Masih terlihat ada sesuatu.
Akhirnya tas dibongkar dan...
KABEL EXTENSION KAMI DISURUH BUANG. 😭
Padahal di penerbangan sebelumnya aman-aman aja.
“This cable is not allowed,” kata petugas perempuan itu.
Dan kemudian tangan kanannya langsung nyemplungin kabel kami ke tong sampah.
Secepat itu.
Cegek.
Yaudah lah ya... baru berangkat juga ini. :”)
Karena waktu penerbangan kami masih cukup lama, kami mencari pojokan yang nyaman untuk meluruskan kaki setelah seharian dipaksa bekerja ekstra. Ternyata totalnya hampir 16 ribu langkah.
Sambil duduk kami makan bekal-bekal yang masih ada. Kebetulan masih punya roti sisa dari pesawat. Rotinya kami belah, lalu diisi nugget Albaik supaya berubah menjadi burger versi perjalanan.
Hemat tapi tetap enaqqqq.
Bagian tulisan ini juga sempat saya kerjakan in between menunggu gate dibuka. Ngantuk banget, tapi rasanya nanggung kalau tidur. Jadilah malah ngerjain kerjaan karena WiFi Bandara Dubai jos sekali!
Sambil ditemani milk tea dari vending machine bandara yang ternyata enak banget dan terasa penuh rempah. Sekalian menghabiskan sisa dirham, harganya waktu itu sekitar 6 dirham.
Dan akhirnya perjalanan singkat kami di Dubai selesai.
Bersyukur sekali untuk satu hari yang sungguh melatih kaki ini. 😭 Panasnya luar biasa, beberapa itinerary berubah, ada tempat yang nggak jadi dikunjungi, ada salah jalan, ada bus yang bikin deg-degan, ada kabel extension yang harus direlakan...
Tapi di tengah semua itu, Alhamdulillah semuanya tetap berjalan baik.
Allah memberi kami kesempatan untuk singgah sebentar di sebuah kota yang sebelumnya cuma sering kami lihat dari layar. Pagi hari melihat sisi Dubai yang lebih tua, naik abra, berjalan di antara souq, lalu menutup hari dengan metro modern, gedung-gedung tinggi, Dubai Mall, aquarium raksasa, dan Burj Khalifa.
Dua sisi kota yang berbeda dalam satu hari.
Capek? Banget.
Panas? Jangan ditanya.
Tapi senang pernah melewatinya bersama-sama.
Dan sekarang ketika tulisan ini dilanjutkan, kami sudah berada ribuan kilometer dari sana. Duduk di Bandara Istanbul dini hari sambil menunggu waktu Subuh. Dubai sudah menjadi cerita kemarin, sementara kota berikutnya sedang menunggu kami di luar pintu bandara.
Nggak sabar melanjutkan perjalanan berikutnya. Masih dengan rencana-rencana yang kami buat, tapi semoga dengan hati yang semakin belajar untuk nggak menggenggam semuanya terlalu erat. Mengupayakan yang terbaik, lalu bergantung penuh kepada Allah untuk memberi kami sebaik-baiknya perjalanan.
Kembali menulis ini di perjalanan udara bersama Emirates, sekitar satu jam sebelum landing di Bandara Dubai. Alhamdulillah atas hari yang sejujurnya cukup bikin deg-degan karena seperti yang saya bilang kemarin, hari ini kami akan melakukan long flight pertama setelah sekian lama nggak pergi ke luar negeri.
Terakhir banget tahun 2016 ke Istanbul. Setelah itu lahiran, ini-itu, kehidupan berjalan ke mana-mana, dan memang belum ada kesempatan pergi lagi. Jadi kali ini rasanya campur aduk antara deg-degan, takut bingung, sekaligus excited. Apalagi ini juga akan menjadi pengalaman pertama untuk Baba, Kafa, dan Nada.
Pagi ini diawali dengan bangun untuk Subuhan bersama di hotel. Ternyata setelah sholat anak-anak juga nggak tidur lagi, jadi kami langsung mulai prepare untuk check out meskipun sebenarnya waktunya masih cukup panjang.
Alhamdulillah, di Hotel Kyriad ini ada FREE shuttle ke bandara dengan empat pilihan jam setiap harinya dan maksimal empat orang per perjalanan. Jadi harus booking dulu, dan kalau slotnya sudah diambil tamu lain ya nggak available lagi.
Sejauh pengalaman menginap di sini, kami merasa puas-puas aja. Mungkin karena dari awal memang sudah setup mindset, “Bismillah, diterima dan dinikmati apa pun yang kita dapat.” Harganya tergolong terjangkau untuk sekadar transit. Memang bukan hotel yang wah banget dan bangunannya cenderung agak tua. Di Google Maps juga lumayan banyak review bintang satunya.
Kamar kami ternyata mengalami beberapa hal yang sama seperti yang ditulis di review. AC-nya beberapa kali netes cukup deras dan kettle pemanas airnya sudah menguning sampai kami agak ragu menggunakannya.
“Harusnya sayang banget ya. Ini kan kettle nggak mahal-mahal banget. Misal diganti pasti experience tamunya lebih oke,” kata Baba.
“Iya sih ya... tapi mungkin mereka juga lagi kesulitan secara ekonomi, jadi untuk ganti kettle pun jadi cost yang harus dipikirkan dulu? Bisa jadi mereka masih mode bertahan aja. Yaaah, seperti kita tahu, running business itu nggak mudah. HAHAHA,” jawab saya dalam mode perspektif pemilik usaha yang otomatis mikirin hal-hal di balik layar yang mungkin nggak terlihat customer.
“Ya meskipun nggak membenarkan kekurangannya sih. Tapi semoga dengan kita belajar mengerti dan memaklumi kekurangan orang lain, ketika usaha kita punya kekurangan juga orang-orang berkenan mengerti. Meskiiiiii kalau bisa sih kita tetap selalu kasih yang paripurna ya. Cuma kadang kita pengen gaspol, tapi cashflow berkata lain.”
Lha malah jadi ngobrol kerjaan gara-gara kettle menguning. Wkwkwk.
Karena hari itu hari Jumat, saya coba chat admin hotel untuk bertanya apakah shuttle kami bisa dimajukan sekitar jam 11 agar bapak yang mengantar juga nggak kesulitan mengejar sholat Jumat. Meskipun hotelnya dekat bandara, Soekarno-Hatta ini gede banget dan perjalanan menuju Terminal 3 tetap membutuhkan waktu sekitar 20–30 menit.
Alhamdulillah pihak hotel langsung mengiyakan. Pagi itu kami juga sempat pinjam setrika dan langsung dikirim ke kamar. Jadi walaupun beberapa fasilitasnya mungkin sudah kurang up to date, selama kami menginap stafnya gercep dan ramah kok.
Kami diantar oleh bapak driver yang ramah dan sangat tanggap. Beliau bahkan membantu mengangkat koper-koper kami yang segambreng dan besar-besar itu. Karena rombongan kami tujuh orang, kami tetap memesan GoCar tambahan.
Sepanjang perjalanan kami melihat banyak sekali pesawat lepas landas. Kafa sudah mulai excited banget, sementara Nada malah ngantuk berat. Jadilah kami menelepon Rina karena hari ini dia ulang tahun! Harapannya sekalian bikin Nada nggak ketiduran. Eh, dia malah beneran ketiduran saat video call, meskipun sempat ketawa salting waktu ada Darin wqwqwq.
Kami sampai di bandara sebelum jam 12, tentu masih cukup lama karena counter check-in baru buka sekitar jam 2 siang. Begitu sampai, Kafa dan Baba langsung meluncur untuk sholat Jumat, sementara kami mencari tempat duduk dan mulai makan bekal.
Sebelum berangkat tadi kami memang sempat bagi tugas. Mei dan Lintang pergi membeli HokBen yang lokasinya cuma sekitar empat menit jalan kaki dari hotel, supaya nanti nggak bingung cari makan di bandara. Dan kami emang lufff banget sama HokBen, jadi memilih makanan yang sudah pasti anak-anak mau makan.
Selama menunggu, Mei dan Nada sempat main games, Kafa menggambar pesawat Emirates, sementara saya dan Ontyas sempat keliling lihat-lihat area sekitar.
Ngomongin Terminal 3 jadi kayak melihat karya Pak Riza wkwk. Bagus banget! Kamar mandinya juga cakeeeep, modern dengan stainless steel dan hijau-hijau segar. Tenant makanan di T3 juga banyak dan beragam banget. Kalau mau explore, hampir semua brand besar yang umum kita lihat rasanya ada di sana.
Ontyas sempat cobain Boost, sementara saya malah terpukau melihat juicer/blender mereka. Wondering berapa ya harganya sampai bisa ngejus sehalus itu dan suaranya aman banget nggak berisik? BRB survey blender buat Wuffy wkwkwk.
Nggak lama kemudian counter check-in dibuka dan ternyata RAMEEEE BANGET penumpang Emirates ini. Sepertinya penerbangannya benar-benar full seat. Antrean bagasi mengular panjang dengan koper segambreng masing-masing.
Kafa, Ontyas, dan Baba antre duluan karena awalnya kami berpikir untuk drop bagasi mungkin nggak perlu full team berdiri di antrean. Kebetulan Nada juga lagi tidur, jadi saya masih mangku di dekat situ, Medin sedang Zoom kerjaan, dan Lintang di toilet.
Sambil nunggu, saya sempat tanya ChatGPT dan katanya kemungkinan semua penumpang tetap harus hadir di counter, minimal untuk verifikasi.
Padahal awalnya dengan sotoy saya mikir, “Bisa kali ya... kalau ikut biro Umrah kan jamaahnya bisa dibantu check-in jadi satu handling.”
Lupa kalau KITA KAN BUKAN BIRO UMRAH wakakakaka.
Bener aja, nggak lama Baba nyamperin dan bilang kami harus maju semua. Jadilah dengan tercepot-cepot kami mengangkat segala bawaan dan maju bersama. Alhamdulillah proses check-in berjalan lancar. Setelah itu kami sempatin yang mau ke toilet dulu sebelum lanjut ke bagian imigrasi.
Jujur saya masih agak deg-degan dengan perjalanan luar negeri karena masalah sidik jari saya. Inget nggak sih, hampir setiap bikin postingan perjalanan ke luar negeri zaman dahulu saya selalu mention perkara ini? Apalagi dulu saya pernah hampir dideportasi dari Malaysia gara-gara sidik jari nggak terbaca. 😭
Tapi untuk trip kali ini sebenarnya saya sudah melakukan langkah preventif dengan datang ke dokter subspesialis sebelum keberangkatan. Saya periksa dan akhirnya diberi surat keterangan mengenai kondisi kulit yang memang membuat sidik jari sulit terdeteksi mesin scan.
Oh ya, kami periksa di Paviliun RSSA Malang atas rekomendasi Mbak @ditakencana, si Wikipedia kehidupan. Wkwk. Servisnya mantap betul! Adminnya super gercep dan proses penjadwalannya enak. Kami datang benar-benar langsung periksa tanpa menunggu lama, dokternya tanggap, responsif, dan baik sekaliii. Biayanya waktu itu ternyata sekitar Rp200 ribuan. Untuk waktu yang nggak kebuang karena menunggu dan kemudahan seluruh prosesnya, menurut saya worth it banget.
Bahas pesawat kemudian ke hotel kemudian kettle kemudian dokter. Kebiasaan manusia satu ini memang. Wkwkwk.
Nah, Alhamdulillah proses imigrasi akhirnya berjalan lancar. Sebelumnya Kafa dan Nada sudah kami briefing untuk behave dan mengikuti arahan dengan baik, dan Alhamdulillah mereka kooperatif.
Hanya Nada yang karena masih di bawah enam tahun belum bisa lewat autogate dan harus melalui imigrasi manual. Ditanyain sedikit seperti mau ke mana, berapa lama, tujuannya apa, sudah pernah keluar negeri atau belum, dan beberapa pertanyaan lainnya. Selebihnya semua berjalan lancar.
Setelah itu kami menunggu boarding di area dekat gate Emirates yang ternyata nyaman banget! Banyak kursi empuk, ada pilihan tempat duduk semacam pod yang lebih private, dan ada juga area yang bisa dipakai sambil kerja karena meja dan colokan tersedia di mana-mana. Lokasinya dekat toilet dan playground anak juga, jadi enakeun banget. Nggak terasa harus menunggu beberapa jam karena memang nyaman aja.
Lalu tibalah waktu penerbangan!
Hal yang sudah bikin Kafa dan Nada penasaran sejak lama. Mereka berbinar-binar dan super excited sekaligus deg-degan. Alhamdulillah semua crew Emirates ramah banget dan terlihat tulus saat menyapa anak-anak, jadi mereka juga lebih tenang.
Anak-anak dapat banyak hadiah, mulai dari tas, selimut, boneka, sampai activity kit berisi worksheet dan alat warna. Mereka juga penasaran nyobain semua entertainment di pesawat, mulai dari film, air navigator, sampai games. Jadi proses take-off yang tadinya bikin deg-degan malah terasa seru dan menyenangkan. Alhamdulillah.
Untuk makanan, mereka dapat kids meal dan Kafa Alhamdulillah habis bersih~ Nada memang pada dasarnya agak sulit makan makanan yang banyak sausnya, jadi dia justru lebih memilih punya saya: nasi goreng dengan roasted chicken. Jadilah meals Nada kami simpan karena memang sudah siap sedia silicone food box.
Di Emirates ternyata kita juga bisa dapat FREE foto Polaroid! Senang sekali bisa punya kenangan foto sekeluarga. Meskipun saya menghitam karena posisinya jauh dari flash, tapi gapapa-gapapa, tetap senang wkwkwk.
Alhamdulillah anak-anak juga akhirnya bisa tidur dengan tenang. Mereka baru bangun menjelang landing karena memang semua harus kembali ke posisi duduk. Meskipun terkantuk-kantuk karena kalau mengikuti waktu Indonesia saat itu sudah sekitar jam dua pagi, sementara waktu Dubai masih sekitar jam sepuluh malam, mereka tetap berusaha bangun dan mengikuti arahan dengan baik. Alhamdulillah.
Oh ya, kami juga dapat light meal berupa sandwich. Karena malam itu sudah mager makan, semuanya kami bawa untuk persediaan perbekalan explore Dubai besok. Untung Ontyas membawa koper kecil yang memang tujuan hidupnya adalah membawa aneka ransum dan tas-tas yang keberatan hahaha.
Setelah turun dari pesawat, kami memilih menuju area connection dulu untuk mencari prayer room dan tempat istirahat karena baru berencana keluar bandara keesokan paginya.
Sempat isi ulang air minum gratis di dekat B12 sambil menunggu Baba dan Kafa sholat karena di area itu hanya ada men's prayer room. Setelahnya kami jalan jauuuuh banget menuju sekitar B32 untuk mencari tempat sholat perempuan sekaligus area istirahat.
Area sekitar B30 ini enak karena dekat dengan prayer room untuk laki-laki dan perempuan, toilet, dan juga playground anak. Ada banyak kursi yang cukup nyaman untuk rebahan, meskipun malam itu awalnya super duper ramai dan memang harus sabar menunggu dapat tempat. Untuk urusan charger, di area tempat kami istirahat jumlahnya juga nggak sebanyak yang tadi kami temui di Terminal 3, jadi harus gantian di beberapa titik yang tersedia.
Tapi Alhamdulillah, lagi-lagi saya dibuat bersyukur melihat bagaimana anak-anak ternyata bisa beradaptasi dengan baik. Bisa tidur di mana saja ketika memang sudah lelah, tetap menikmati perjalanan, dan menerima bahwa setiap tempat punya kondisi yang berbeda. Di sekitar kami ternyata juga banyak keluarga dengan anak-anak yang melakukan hal serupa.
Semoga pengalaman-pengalaman seperti ini nggak mengurangi nikmat dan kebahagiaan mereka dalam traveling, tapi justru perlahan menambah kemampuan mereka untuk beradaptasi di berbagai kondisi.
Saya semakin sadar kalau setiap keluarga memang punya travel style-nya masing-masing. Ada yang lebih nyaman memastikan tempat istirahat dan perjalanan tertata senyaman mungkin, dan itu tentu menyenangkan. Sementara kami ternyata cukup menikmati perjalanan yang kadang punya bagian sedikit random seperti ini. Selama aman dan anak-anak masih mampu menjalaninya dengan baik, rasanya justru ada pengalaman baru yang kami dapatkan bersama.
Nggak semuanya harus sempurna untuk tetap bisa menjadi perjalanan yang menyenangkan.
Tulisan ini dimulai sekitar satu jam sebelum pesawat landing di Dubai, lalu diselesaikan sambil duduk menunggu pagi di Bandara Dubai. Anak-anak sudah tidur di sekitar kami, sementara perjalanan ini rasanya baru benar-benar dimulai.
Hari kedua selesai di sebuah kursi Bandara Dubai, dengan badan yang mungkin terasa capek, anak-anak tertidur, dan hati yang masih penuh rasa syukur. Besok, insyaAllah, kami akan melihat Dubai untuk pertama kalinya.
Lagi menunggu check in di Airport Hotel Kyraid Tanggerang Selatan setelah melakukan perjalanan panjang lintas provinsi dari malang ke jakarta dengan trans 27 sejak jam 6 sore kemarin. Memilih menginap disini karena kami akan melakukan flight panjang keesokan harinya menuju Istanbul dan akan transit seharian di Dubai, hingga nanti lanjut ke Saudi Arabia. Ini adalah perjalanan panjang pertama setelah 10 tahun vakum tidak pernah pergi ke luar negeri.
Nggak tau kenapa terus kepikiran untuk menulis hal-hal terkait perjalanan ini secara apa adanya di blog yang rasanya udah penuh debu dimana-mana. Kangen banget nulis disini! Tapi rasanya sosial media lainnya udah menyedot banyak waktu hingga rasanya nggak sempat untuk menulis panjang disini. Tapi tapi karena sebenarnya selama perjalanan saya ingin banyak offline dulu dari instagram, jadi mungkin akan menyempatkan menulis segala hal yang dirasa disini. Mungkin nanti akan menulis di pesawat, dikereta, di metro, di saat menunggu, atau di momen apapun. Tapi intinta saya lagi mengizinkan diri untuk menulis apapun yang ingin dia tulis, meski sebenernya bagian dirinya yang lainnya (apaan sih ghe mulai gajelas wkwk), pasti akan merasa banyak yang gatel direvisi-revisi sinceee udah nggak nulis disini sejak beberapa tahun lalu.
Jujur deg-degan banget ketika finally apa yang di-plan dari jauh jauh hari ini akan menjadi nyata segera. Mungkin berhari-hari kedepan akan banyak hal baru yang akan dihadapi dan tentu bikin degdegan, cemas, khawatir, dan excited dalam satu waktu. Apalagi sebenarnya beberapa hari sebelum keberangkatan ini ada sebuah kejadian cukup berat yang qadarullah terjadi dan membuat perjalanan yang awalnya terasa sudah sangat well plan menjadi harus lebih banyak bertawakkal.
Sebelum kejadian, perjalanan ini awalnya mungkin masih banyak ambisi duniawi (pengen kesana kesini), setelah kejadian tersebut rasanya cuma pengen lebih mendekat kepada Allah. Lebih berserah, lebih pasrah, yaaah tetap mengupayakan yang terbaik dan terus berdoa tapi jadi lebih percaya bahwa apa yang terjadi nantinya adalah yang terbaik dari Allah.
Baru aja baca postingan temen di instagram (mba @delifatimawati), yang juga habis merasakan bahwa manusia tuh memang bisanya berencana, tapi nyatanya sesuatu yang terlihat pasti kalo menurut Allah bukan itu maka yaudah bukan itu. Kejadian tersebut terjadi sekitar 5 hari yang lalu, bener-bener di tengah hectic keberangkatan. Setelah hari pertama sok tegar dan sok kuat, besoknya mulai menyadari bahwa manusia ini butuh waktu untuk merasakan sedihnya. Tapi karena kejadian ini juga, hampir setiap sholat pasti berurai airmata, dikasih Allah keajaiban kecil juga udah aja mata rasanya panas mo nangis (nulis ini punn!!), rasanya kayak banyak hal kecil yang selama ini nggak bener-bener kerasa maknanya kalo kejadian besar ini nggak terjadi. Kejadian yang menyakitkan tapi ternyata punya banyak hikmah.
Kata mba Delia tadi, "Bersyukur dan beruntung sekali sebagai seorang muslim, karena semua urusannya adalah baik. Jika mendapat kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapat kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya". Dan namanya bersabar itu, di beberapa kondisi rasaya tidak semudah itu dilakukan, butuh latihan, butuh penerimaan, dan butuh proses. Tapi ketika sudah bisa berdamai rasanya beda sekali. Rasanya jadi semakin yakin bahwa manusia ini nggak akan bisa apa-apa tanpa kuasa Allah. Dan rasanya, mungkin kondisi ini yang terbaik untuk perjalanan ini. Perjalanan traveling yang semoga tidak sekedar menjadi perjalanan biasa tapi juga menjadi momen spiritual untuk saya sendiri bisa lebih mendekat dengan benar-benar dekat dari hati.
Saat masalah ini terjadi tentu saya ceritakan apa adanya pada kafa, semua kondisinya, cerita sambil nangis wqwq karena harus menjelaskan bahwa mungkin perjalanan ini nggak akan bisa seperti yang di plan di awal, akan ada banyak hal yang harus di adjust. Karena ceritanya sambil berderai air mata, kafa memeluk saya dan bilang gapapa banget untuk apapun kondisnya nanti, insyallah dia juga akan berusaha menyesuaikan bahkan dia juga bilang akan membantu sounding kepada Nada, adiknya. Terus yang paling bikin ngakak adalah dengan asbun-nya (read : asal bunyi) dia bilang "Bunda harusnya bersyukur Allah masih kasih bunda cobaan biar lebih banyak mengingat Allah, biar bunda nggak jadi firaun" 😭😭😭 mo nangis tapi pengen ketawa karena kenapa tiba-tiba ada firaun ditengah obrolan kita huaaaa... Tapi benar juga sih, dengan ujian ini semoga dijauhkan dari perasaan merasa bisa sendiri dan kesombongan-kesombongan apapun itu.
“Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri.” (QS. An Nahl: 23)
Balik lagi ke cerita tentang hari keberangkatan perjalanan panjang ini. Diantara beragam hal berat yang terjadi, rasanya terharu, karena banyak sekali yang kemarin mengantar kami berangkat, padahal sejujurnya kami nggak pengen banyak cerita kemana-mana. Meski kebanyakan ya sodara sendiri tapi tetep aja terharu karena udah menyempatkan waktunya huhuhu. Bahkan ibuk, mba firdha, mas fatieh, hazbi dan veren jauh-jauh jemput kami ke Bandulan untuk anter ke pool bus di soekarno hatta.
Kemudian ada Rina dan Darin yang tiba-tiba muncul bawa segambreng makanan, Pak antok dan mba Citra yang juga tetiba hadir nyempetin jauh2 buat ngasih kita makanan dan perbekalan (padahal kita udah makasih banget karena udah dipinjemi ihram buat kafa), dan Mama Lil yang tetiba dateng setelah salah pool nunggu kami di terminal Arjosari, they just sooo kind!
Terharu banget huhuhu, mo nangezzzz.. Begitu banyak orang dengan perhatian-perhatiannya yang berarti banget untuk kami, apalagi di kondisi saat itu, mereka memberi banyak wejangan dan doa tulus untuk kami. Rasanya kedatangan mereka itu menyadarkan bahwa kami beruntung banget punya banyak support system yang luar biasa. Nulis ini jujur udah panas banget matanya karena mau nangis HUHUHU, masyaAllah tabarakallah. Allah baik memperjalankan mereka semua kepada kami, sehingga kami tidak kekurangan bahkan berlimbah tanpa harus beli beli seseuatu untuk perjalanan. Semoga semua ini jadi kebaikan untuk mereka semua. Ohya bahkan ada onty bella yang bisa-bisanya ngirimin beragam hal untuk kami disertai ucapan doa yang super duper hangat. Thoughtful sekali! Terimakasih huhuhu.
Sebelum berangkat, kami nyempetin sholat maghrib di masjid alghifari, disebrang pool bis sambil lari-lari karena jujur waktunya mepet banget, pas kelar sholat busnya udah dateng jadi proses peluk-pelukannya berlangsung super duper cepat dan Nada menangis kenceng banget karena dia terharu sama semua itu. Sampe bus jalan masih jauh dia juga masih sedih banget "seharusnya kita pergi umrohnya sama semua orang, nada sayang sama semuanya, nada perasaannya sedih sekali". Perasaan jujur dengan kesedihan yang valid, dia mengalami banyak perasaan sekaligus saat itu.
Tapi Alhamdulillah, ini adalah long trip dengan bus pertama anak-anak, biasanya kita memang sering road trip ke jakarta tapi naik mobil yang bisa dengan mudah berhenti-berhenti, ini harus belajar berkompromi dengan jadwal bus, yang tiba-tiba makan malam dini hari lah, kalo pengen buang air ga bisa tiba-tiba menepi ke rest area terdekat melainkan harus buang air di bus yang berjalan, ini semua tentu pengalaman baru buat mereka. Merasakan bahwa hidup nggak selalu tentang kenyamanan tapi memang mereka harus belajar untuk beradaptasi.
Meski perjalannnya panjang bener, dari jam 6 sore sampai jam 9.30an pagi (karena kita turun di pemberhentian terakhir), alhamdulillah mereka kondusif, ceria, meski ada laaaah debat kecil antara kaka adek tapi all is well. Apalagi trip ini juga bersama Lintang, Mei dan Ontyas yang siap menjadi bala bantuan menemani anak-anak ini. Ohya kami turun di terminal Poris yang cukup wow gitu kondisinya, bukan tempat yang nyaman untuk geret koper segambreng kami tapi yagapapa, memang perjalanan ini adalah edisi mensyukuri dan menikmati apapun kondisinya. Jadi selama ndorong koper ke pintu masuk terminal, nunggu gocar, anak-anak koperatif, Lā haula wa lā quwwata illā billāhil 'aliyyil azhīm.
Lalu kebaikan Allah kembali terasa saat kami sampai di hotel transit ini, awalnya agak worry karena baca review mapsnya yang kurang oke, katanya resepsionisnya kurang ramah dan mereka juga agak kurang suka sama orang yang dateng kecepetan (kayak kami tadi), jadi dari awal udah set pemikiran bahwa waaah kayaknya agak ada tantangan deh, jadi ntar gimana aja diterima deh. Surprisingly mereka semua ramah banget! Mempersilahkan kami menunggu di lobby, taman, area kolam renang, dan juga mengabarkan bahwa misal nanti ternyata kamarnya ready lebih cepat kita bisa early check in.
Dan... ta-da! Jam 12 kami sudah boleh masuk ke kamar! MasyaAllah Tabarakallah, hal kecil yang terasa besar ketika menggantungkan semua ke Allah dan pasrah aja. Kita jadi bisa istirahat kilat, sholat dzuhur dan ashar, kemudian jalan kaki cari makan disekitar. Dan ini juga kita set low expectation untuk makan kita, tapi ternyata dapet tempat yang mbaknya ramah baget, kita makan bakso iga, bebek bakar hitam, ayam goreng lengkuas dan nasi goreng. Harganya masuk akal. Tempatnya walking distance dari hotel, kayaknya nggak sampe 5 menit, cuma lokasi jalannya aja yang panas terik dan debu. Tapi selebihnya oke aja. Semua dibuat oke aja pokoknya wqwqwq.
Btw bersyukur sekali dan merasa senang (sekaligus lega!) karena tiba-tiba bisa buka blog ini lagi, tadi awal nulis di loby waktu nunggu check in, tapi kemudian dituntaskan di kamar setelah maghrib sambil merefleksi dan terharu sendiri tentang perjalanan hari ini.
Aneka hal yang tiba-tiba aja padahal tadi ga dibawa :")
Mungkin perjalanan ini memang tidak dimulai seperti yang kami rencanakan. Tapi semoga justru dimulai dengan cara yang Allah inginkan: dengan lebih banyak berserah. Entah apa yang akan kami temui dalam perjalanan ini. Untuk sekarang, rasanya cukup melangkah sambil percaya bahwa Allah akan menemani. Semoga perjalanan ini bukan hanya membawa kami ke tempat-tempat yang jauh, tapi juga membawa hati kami semakin dekat kepada-Nya.
Oh Allah, temani kami dan bimbing kami disetiap perjalanan kami nantinya. Perjalanan yang sudah kami inginkan sejak lama, perjalanan yang menjadi bagian dari impian kami. Menuju rumah-Mu. Bersama suami dan anak-anak, serta tim yang seperti sahabat dan saudara.
Makan malam didepan hotel, mie ayam dan bakso~
Tanggerang Selatan, 3 September 2026
With Love,
Ghea Safferina <3
Sejujurnya udah lama banget pengen singgah ke rumah papermoon yang sepertinya didalamnya banyak berisi karya-karya penuh makna dari artist-artist keren yang kalo ngejarin sesuatu tuh pakai hati. Cuma ternyata selama ke jogja berkali-kali sejak punya plan kesini tuh belum berjodoh terus. Dari awal menikah mau liburan ke jogja sampe akhirnya punya anak dua, baru muncul tuh kayaknya hilal bisa singgah ke tempat ini.
Salah satu cara biar bisa mampir ke workshop papermoon itu dengan menginap di papermoon residency house. Yap! Mereka sekalin punya workshop juga punya penginapan atau rumah yang sebenernya untuk para artist atau tamu-tamu mereka tapi juga mereka sewakan untuk umum selama ada kamar kosong. Tentu ini adalah pilihan menarik dan pas ngajuin tempat ini ke salah satu penginapan tujuan langsung di approve sama baba. Yey, bookinglah lewat link wa yang ada di bio mereka, cek IGnya disini yaah.
Rencana menginapnya tuh waktu saya sama wuffy family kebetulan ada acara di jogja, terus pulangnya kita berencana extend sekitar 10 harian untuk mencari inspirasi dan family time dengan pindah-pindah penginapan setiap hari. Jujur ini udah hampir 2 tahun berlalu belom di post sama sekali di blog, jadi semoga postingan papermoon ini akan menjadi pembuka jurnal perjalanan wuffy family di jogja. Telat gapapah lah, yang penting usaha mendokumentasikan perjalanan dalam cerita yang semoga bisa dinikmati anak-anak kami suatu hari nanti.
Kami datang kesini siang hari, jujur dulu di dua tahun lalu merasa papermoon ini jauhhh banget dari jogja karena pas itu kita belum ada hilal akan buka wuffyspace di bantul! Bahkan kayaknya pas itu belum launching wuffyspace pertama deh, eh siapa sangka di beberapa tahun kemudian kami ada project di daerah bantul sini yang saat menulis postingan ini, rasa-rasanya papermoon cukup dekat deh dari jogja hahaha, udah berubah prespektifnya. 20 menitan lah dari wuffyspace bantul, dan bahkan sepertinya lebih deket papermoon kalo dari jogjanya.
Waktu kami dateng tuh lagi hujan gerimis tipis gitu, kami disambut sama salah satu penjaganya yang dengan ramah mengantar kami untuk room tour dan sedikit bercerita tentang tempat ini.
Kami juga diberi informasi bahwa boleh banget pakai dapur selama setelah pakai diberesin lagi. Jadi semua fasilitas boleh pakek, selfservices, dan bertanggung jawab. Beliau nggak lama menjelaskan terus pergi lagi.
Hari itu yang menginap cuma kita dan ada satu anak yang lagi internship di papermoon seorang ilustrator kalo nggak salah yang jago gambar, tapi kami ga sempat ketemu. Cuma sempat intip karyanya yang emang bagus.
Anak-anak seneng pas awal datang mereka berkegiatan macam-macam. Nada merangkak kesana kemari, kafa ngegambar-gambar dan grounding, dan saya... kembali bekerja dengan suasana syahdu bau tanah yang abis kena hujan, wangi Petrichor yang menenangkan banget.
Malamnya kami pesan makanan online karena males keluar dan nggak punya bahan juga untuk dimasak. Kami pesan magelangan, mie lethek, lengkap sama jeruk angetnya juga karena malam itu juga masih gerimis syahdu gitu. Jadi makin cocok makan anget-anget. Makannya di ruang makan papermoon yang tempatnya instagramable dan berasa lagi ke ke cafe ala jogja.
Kami lanjut family time sampe kemudian segera tidur karena besok rencananya pagi-pagi mau ke workhsopnya papermoon sebelum kemudian lanjut ke aneka jadwal berikutnya. Jadi sengaja nggak mau capek-capek karena sadar traveling sama anak balita dan toddler ini butuh tenaga ekstra. Senang meski capek, dan kami tuh yakin perjalanan ini insyallah jadi tabungan pengalaman dan kelekatan bagi anak-anak. Selebihnya silahkan intip beberapa foto yang sudah saya jadikan scrapbook karena sekalian mau dicetak buat jurnal printout.
Semoga bisa istiqomah melanjutkan aneka postingan perjalanan wuffy family dalam traveling dan perjalanan memulai usaha yang penuh lika-liku ini hahaha.
Mampir ke happy project kami disini :
- Wuffyland, aneka produk mainan edukasi anak
- WuffySpace, all in one place for family. Cafe, playground, kids class, curated store.
Tuesday, April 11, 2023
Pergi Sendiri Setelah 5 Tahun Jadi Ibu, Gimana Rasanya? Cerita Perjalanan Awal ke Jakarta
Dulu setiap ditanya orang tentang perbedaan setelah menikah dan masih sendiri, saya selalu bilang nggak terlalu ada perbedaan siginifikan antara keduanya. Tapi kalo pertanyannya diganti jadi perbedaan setelah punya anak? Pasti saya akan jawab.... banyak banget bedanya!
Ini udah tahun ke 5 saya jadi ibu. Rasa-rasa yang kadang masih kayak percaya ngga percaya. Hari-hari rasanya penuh dengan hal baru, rasa ketidaktahuan, kebingungan, keresahan, yang nggak bisa serta merta di pause dan harus terus aja jalan karena kita nggak menjalinya sendirian. Tapi sebenernya semua itu sepaket dengan aneka kebahagiaan yang datang dari hal-hal sederhana dari kehidupan sehari-hari dari anak-anak kita yang kadang cukup terekam oleh hati dan mata kita aja.
Meski tau-tau sudah punya dua anak (....haha ini baru sadar belum pernah cerita tenatng Nada yang gimana-gimana disini, but soon will be! Agar ketika anak-anak itu baca blog bundanya tidak ada perasaan kecewa dan merasa iri 🤣) tapi tetep loh, masih sering merasa clue-less dengan parenthood dan motherhood lyfe ini. Bahkan nggak jarang (...alias sering) di moment-moment tertentu pas lagi banyak tuntutan kerja, saya tuh mendadak jadi kayak mudah sedih dan tiba-tiba mempertanyakan sendiri pilihan-pilihan hidup yang saya pilih lalu merutukinya. Seperti, kenapa ya kok saya tuh milih sibuk ngurus kerjaan? Jangan-jangan saya bukan ibu yang baik yang bisa pintar bagi waktu bagi anak saya? Kenapa ya saya maunya semua dikerjain sendiri dan nggak pakek ART? Jangan-jangan ini juga bikin rumah ga beres-beres terus saya stress (while di lain kesempatan saya pernah coba pakai ART tapi malah kehilangan kesenangan beres-beres), dkk dkk dkk... aneka keruweutan pikiran yang saya dan pikiran saya bikin sendiri. Yaa gitu lah yaaa..
Tapi kadang, pas di runtut kebelakang, hari-hari dengan pikiran berat itu terjadi ketika saya kehilangan kendali atas hari saya lalu merasa tak berdaya. Misal nih, kebanyakan scrolling sosmed, berujung tidur kemalaman, bangun agak kesiangan dikit, terus semua jadi keburu-buru, nggak sempat dini hari journaling yang biasanya selalu berhasil menetralkan perasaan, lalu ke-skip juga bikin daily task sehingga hari itu terasa bingung dan semua jadwal berantakan. Kalo udah gitu, alamat.... udah aja seharian bingung, gelisah, merasa kurang ini itu, dan bisa berefek kemana-mana kalo nggak ada penerimaan akan... 'yhaaa sometimes emang hidup begini, yuk per-jam ini kita kembali produktif'... dan kita evaluasi tuh awalnya apa, oh ternyata kmrn kebanyakan main hp, berarti kiat coba kurangi screen time dan lebih fokus meraih target-target harian agar tidak terlena! (ngomongnya mudah, semoga eksekusinya tidak susah eaeaea haha)
Oke kembali ke judul yang ternyata selalu melenceng kejauhan. Jadi, beberapa hari yang lalu saya tiba-tiba harus ke Jakarta untuk sebuah project super duper seru (will be spoile it soon!) dan hari rabu malam saya baru dapat telfon 'bisa ngga kalo jumat ke Jakarta?' bener-bener semendadak itu yang kalo harus berangkat full team romongan sirkus pasti akan effort prepare dan lain-lain, sementara urusan disana juga kayaknya butuh sat-set-wat-wet dan agile. Jadi setelah berdiskusi dengan baba, minta izin, membahas ini itu itu.. diputuskan buat saya berangkat sendirian tapi harus ditemeni orang lain, dan tentu saja langsung ngajak Lintang yang langsung meng-iya-kan ditengah kita juga sebenernya ada event Pasar Santai selama 10 hari kedepan (dimulai dari hari kamis itu).
Rabu malam itu saya langsung cari tiket ke Jakarta, karena dadakan ada beberapa agenda yang belum bisa digeser waktunya, jadi kita pilih kereta terakhir yang mana itu adalah majapahit dengan kursi 90 derajat yang cukup menantang karena kita akan melakukan perjalanan 13 jam, tapi tapi tapi... bukannya dari dulu tiap ke jakarta naik kereta semacam ini? Bahkan zaman dahulu kala malah matarmaja yang 3-2 gitu kursinya, lebih menantang. Jadi kursi ini? oh.. insyaAllah bisa dibuat nyaman selama kita neriman (ea-ea-ea)
Kamis pagi packing dan malamnya sebelum maghrib udah OTW stasiun setelah sebelumnya menitipkan kafa nada ke FF Family yang super duper baik banget menampung keluarga kecilku saat kami pergi, sehingga perpisahan sebelum berangkat ini bisa less drama, anak-anak melepas keberangkatan saya dengan suka cita karena mereka pun happy akan main sama sepupunya.
Awal masuk stasiun jujur perasaan agak mixed feeling, sebagian rasanya haru dan deg-degan karena ninggalin keluarga kecilku pertamakalinya setelah 5 tahun! Terutama Nada sih.. kayaknya 2 tahun ini ga pernah terpisahkan karena dia direct breastfeeding kan... Dan ini kebetulan momentum sekalian nyobain nyapih.
Tapi terhibur sama stasiun yang sekarang bagus banget! Fasilitasnya nyaman, musholla bersih, kamar mandi oke, nggak perlu naik turun tangga karena semua bisa dengan eskalator, cihuuy~ Kita sholat dulu begitu awal masuk terus langsung ke arah kereta. Keretanya super ontime dan kita langsung masuk buat buka didalam biar tenang ngga was-was takut ketinggalan kereta.
Selama perjalanan, yang biasanya sambil kejar-kejaran sama anak, entertain mereka agar tidak bosan atau mangku kalo udah pada tidur, kemarin saya bisa buka leptop, ngerjain kerjaan, dan bikin album jurnal mereka. Hal-hal simpel yang bikin saya happy.
Alhamdulilahnya kereta ngga terlalu ramai, kami duduk di kursi 4A dan 4B, nah sepertinya orang yang seharusnya duduk di 3A dan 3B ini dari awal pilih pindah tempat duduk karena emang banyak free seat di tempat lain-lainnya, cuma naruh tas aja diatas kursi kami terus pindah. Jadi kami bisa leluasa gerak, tidur, selonjoran, dkk. Ohya hal kurang nyamannya cuma saya lupa kalo kereta itu dingin, lupa nggak bawa baju proper. Untung ada kaus kaki lumayan mengurangi dingin tapi selebihnya itu dingin banget sih.
Ohya, kereta sekarang tuh bersih banget! Ternyata ngga cuma di statsiun kita lihat petugas yang super tanggap beberes, tapi di kereta juga. Beberapa saat sekali ada petugas yang lewat buat ngangkat sampah. Lalu tiap kita ke kamar mandi rasa-rasanya abis dibersihkan karena bahkan sisa air aja terlap gitu loh, dan baunya juga harum. No bau bau club lagi toiletnya.
Sampai di Jakarta
Kereta datang sesuai jadwal. Kami turun di stasiun jatinegara, rencana mau naik gocar buat ke daerah cipete. Tapi ternyata waktu turun kedepan, rame banget banyak taxi, ojek, dan riweuh banget gitu lah pokoknya. Kami sempat jalan cukup jauh buat siapa tau bisa cari gocar agak jauhan, tapi ternyata ngga ada tempat yang terlihat aman dan nyaman buat mencari. Jadi mendadak decide buat balik aja naik opsi kendaraan lain, dan kami pilih naik KRL.
Cek maps, nanya-nanya ke petugas, kamipun masuk ke KRL. Eh ternyata awalnya kami sempat salah arah padahal udah masuk kedalam kereta, nunggu lama dan berdiri berdesakan, tapi untung langsung sadar begitu tau stasiun pemberhentian berikutnya itu berlawanan dengan tujuan kita. Langsung turun dan menunggu kereta beriktunya dengan arah yang berlawanan. Ternyata emang keretanya lagi kayak beda jalur dengan petunjuk gitu deh hahaha.
Kami turun di stasiun sudirman, lalu keluar sebentar buat pindah lagi ke halte MRT Dukuh Atas BNI, nah semua arah ini sebenernya udah ada yah di google maps jadi kita tinggal ngikutin aja. Canggih kok google maps, dan seru gitu udah ada stop-stopnya akan kemana aja, harus jalan seberapa, dkk.
Baru tau kalo perjalanannya melewati lorong bawah tanah yang artsy sekali, katanya sih citayam fashion week itu dilangsungkan disekitaran sini. Alhamdulillah terakhir ke jakarta udah sempat naik MRT, yang meski sekilas tapi udah jadi tau harus kemana dan gimana. Jangan lupa buat beli e-money karena semua disini cashless. Inget banget waktu akhir tahun lalu ke jakarta tuh kita ga bisa beli e-money. Mau beli manual ga bisa, mau beli online (sebenernya ada mesinnya), tapi karena stasiunnya di bawah tanah, signalnya kurang bagus jadi ga bisa payment pakai digital (padahal kami pakai simpati). Terus kalo mau pakai mesin bisa pakai uang tunai tapi harus pecahan 50rb sementara kami pas itu ga punya. Jadi ya.... bhay.
Kalo kartu yang kami pakai sendiri ini beli di stasiun cipete, di mesin pakai emoney dan berhasil karena letak stasiunnya diatas, jadi nggak dibawah tanah. Terus kartunya tuh kartu aja yah, nggak ada saldo. Pas itu kami topup kartunya pakai tokopedia.
Oke itu urusan perkartuan aman, kami tinggal nunggu MRT datang aja dan akan turun beberapa stop ke stasiun cipete. Sebenernya naik MRT terbilang lebih mudah dari KRL karena nggak banyak rute, udah kayak pasti-pasti aja arahnya. Dan ternyata momen bisa jalan jauh yang kayaknya kalo kemarin ketemu temen 'eh wow kalian dari malang langsung naik kendaraan umum2 gitu ngga capek?' justru kami merasa happy sekali karena bisa sekalian jalan. Belajar pemanasan buat main ke luar lagi kayaknya yah..
Itu sih cerita perjalanan awal ini, kami langsung super duper sibuk hari itu, begitu sampai langsung chaw ke daerah BSD, Bintaro, dan muter2 kesana kemari. Tapi akan di post di next blog post aja insyaAllah kalo luang hahaha.
Tapi kalo balik ke judul dan ditanya gimana rasanya pertama kali pergi sendiri? Di awal perjalanan ini seperti tadi sempat saya bilang, saya merasa ada yang hilang karena udah kebiasaan satu rombongan sirkus kalo pergi, tapi disisi lain saya kayak menemukan saya di masa muda yang emang bisasa banget pergi kesana kemari sendirian. Kayak ada perasaan hangat dari masa lalu yang menyapa dan membuat rasa ini tetap nyaman dan familiar.
Itu sih kurang lebih perjalanan kami, sampai jumpa di postingan lainnya!
With love,
Ghea Safferina Adany
Mampir ke happy project kami disini :
- Wuffyland, aneka produk mainan edukasi anak
- WuffySpace, all in one place for family. Cafe, playground, kids class, curated store.















%20(1).png)








.png)
Social Icons